Pagi-pagi yang lumayan cerah. Aku mengisi bangku kosong yang berada pinggir jendela. Kulempar tas itu sembarang, entah mengapa gairah untuk bersekolah hilang begitu saja dalam diriku. Aku hanya duduk, dan diam tanpa kata. Sedang asyik-asyiknya aku mela
mun, Fany menghampiriku dengan wajah yang riang. Aku hanya menatapnya bingung.
“Eh, tau gak? Majalah Kawasaki ingin mengadakan lomba membuat cerpen loh! Kamu mau ikut gak? Disana, juga diterangkan tentang cara pengisian entri yang bermutu di blog !! Mau ikut gak, Cha?” jelasnya panjang lebar sekaligus menawariku. Aku tersenyum tipis, melihat semangat Fany yang begitu membara.
“Hmm, aku sih mau aja ikut. Tapi, berapa banyak pesertanya? Kalau terlalu banyak, aku gak mau loh,” ucapku santai. Fany tersenyum riang, dan mengacungkan seluruh jari-jemari tangannya yang mungil itu.
“Sepuluh? Sedikit banget,” ujarku rada sombong. Dia menggeleng, menandakan pernyataanku itu salah.
“Terus? Berapa?” tanyaku heran. Dia nyengir lagi, dan mengucapkannya dengan polos, “Seratus.”
Aku-pun terlonjak kaget, sampai-sampai aku terlonjak dari kursi. Fany hanya tertawa garing yang membuatku makin kesal.
“Sebanyak itu?! Aku gak mau ikut! Pasti saigannya banyak banget,” ujarku ketus. Fany lagi-lagi tersenyum andalan, dan membetulkan kacamatanya yang agak turun.
“Yaah, hanya seratus orang, itu-kan kecil bagimu Cha. Kamu pasti bisa!! Yakinlah,” ujarnya menasehati sekaligus menyemangatiku. Aku hanya menganggukkan kepala, pasrah, aku setuju akan rencananya untuk mengikut sertakan diriku pada lomba membuat cerpen tersebut.
“Nah! Begitu dong! Sekarang, kamu ikut aku,” perintahnya seraya menarik tanganku untuk bangun dari kursi.
“Mau kemana?” tanyaku. Fany tersenyum, dan menjawab, “Mau mengambil formulir dan lembar Biodata.”
Oh. Itu yang terlintas di otak-ku. Dengan pasrah, aku mengikuti Fany dengan tangan ditarik-tarik. Fany memang terlalu bersemangat mengikutsertakan aku. Kami keluar kelas dengan agak tergesa-gesa, sampai-sampai guru-guru pun bingung melihat kami.
“Fan, kamu yakin, yang ikut seratus orang?” tanyaku meyakinkan. Sedangkan dia hanya sibuk dengan urusannya, mengambil secarik kertas putih yang berada didalam kotak bening, letaknya disamping kotak hitam itu. Dengan agak tergesa-gesa, dia mengisikan biodataku. Maklum, dia ini adalah sahabatku sejak kecil. Jadi, dia tau seluruh data tentang diriku.
Karena merasa dicuekkin, aku bertanya kembali.
“Hey, Fany!! Denger gak? Yang ikut sebenarnya seratus orang, atau lebih sih?” tanyaku lagi. Dan lagi-lagi, dia tidak menghiraukanku, sibuk dengan biodata itu. Setelah selesai menulis, sekarang dia sibuk untuk memasukkan
“Masuk!! Datamu telah masuk kedalam kotak ini,” serunya riang. Matanya menggambarkan ke-legaan yang begitu mendalam, entah mengapa.
“Hhh, Fany, ayo ke kantin… aku lapar. Mumpung belum masuk,” ajakku seraya meraih tangannya secara paksa. Dia pun mengikutiku, tanpa ada masalah.
Sejauh ini, aku makan dengan-nya tanpa ada suatu beban. Mengobrol garing yang membuat kita tertawa terbahak-bahak sampai tersedak berkali-kali. Hari ini nampaknya kita akan masuk siang lagi, dengan kenyataan itu, kita menggunakan kesempatan yang langka (padahal sudah terjadi selama seminggu) ini dengan sebaik-baiknya. Memang anak jaman sekarang.
“Hei Cha, pokoknya, kamu harus menang ya! Aku tak mau melihatmu kalah didepan laki-laki yang jago buat cerpen itu,” kata Fany sambil memakan bakso yang kesepuluh. Aku hanya geleng-geleng kepala, dengan keadaan Fany. Dia membenci dan menganggap Ryan sebagai rival beratnya, tapi dia juga memuja-mujanya tanpa ia sadari juga. Dasar.
“Baik, baik, akan kuusahakan. Tapi, aku tak janji loh... Kan kau yang memaksaku untuk mengikuti lomba cerpen itu,” ujarku mengingatkan. Fany hanya mengangguk-ngangguk seakan mengerti, tapi aku tahu, sebenarnya dia tidak mengerti. Huh, dasar.
-------
"Kau harus menang, Ryan. Kalau kau menang, kau akan mendapat nama di mata orang banyak!"
"Tak usah jauh-jauh, Namaku sudah tertera di akte. Ryan Kawasaki. Dan aku bangga."
"Tapi kau tak akan memberitahukan mereka kan, namamu yang sebenarnya?"
"Hn. Aku akan kalahkan perempuan yang duduk di sana, dengan sebelah mata saja."
"Sombong."
"Hn. Itulah aku yang sebenarnya. Ryan Adinata, atau Ryan Kawasaki."
To Be Continued...
Gimana ? Udah lama sih, tapi baru post sekarang. Biasa, males ngedit, dan blablabla- *ditabok*
Ini Cerpen. Jadi ceritanya... Entar aja deh nunggu lanjutan yak *digampar*
Salam,
Michiro Katsufuji (Tiara Murli Adila) [- Muurenzonio -]

2 Comment:
salam hangat!
salam kenal... :)
ditunggu lanjutannya :D
Post a Comment